Raja Ampat Indonesia

Raja Ampat Accomodation, Hotels, Diving, Resort and Hoildays

Mitos & Sejarah 4 Raja di Papua

Sejarah Raja Ampat

Abad 15,Raja Ampat merupakan bagian dari Kesultanan Tidore,yang berpusat di Maluku,walaupun secara geografis mereka berada di Papua akan tetapi mereka menerapkan sistem adat Maluku,yang mana setiap desa dipimpin oleh seorang Raja.

Untuk menjalankan pemerintahannya, Kesultanan Tidore ini menunjuk 4 orang Raja lokal untuk berkuasa di pulau Waigeo, Batanta, Salawati dan Misool yang merupakan 4 pulau terbesar dalam jajaran kepulauan Raja Ampat sampai sekarang ini. Istilah 4 orang Raja dalam yang memerintah di gugusan kepulauan itulah yang menjadi awal dari nama Raja Ampat.

Bila kita lihat peta Provinsi Papua Barat maka letak Kabupaten ini terletak di kepulauan sebelah barat paruh burung pulau papua.

Mitos Masyarakat

Anak anak desa harapan jaya,Misool.

Mitos yang beredar katanya dulu ada seorang wanita yang menemukan 7 butir telur,4 diantara nya menetas menjadi manusia yang saat ini menjadi raja yang berkuasa di Waigeo, Salawati, Misool Timur dan Misool Barat,lalu 3 yang lain nya menetas tapi ada yang menjadi hantu,seorang wanita dan menjadi batu.

Telur-telur tersebut disimpan dalam noken (kantong) dan dibawa pulang, sesampainya di rumah telur-telur tersebut disimpan dalam kamar.

Ketika malam hari, mereka mendengar suara bisik-bisik, betapa kagetnya mereka ketika mereka melihat di dalam kamar ternyata ke-lima butir telur telah menetas.

Kemudian berwujud empat anak laki-laki dan satu anak perempuan, semuanya berpakaian halus yang menunjukkan bahwa mereka adalah keturunan raja.

Sampai saat ini belum jelas siapa yang memberikan nama kepada anak-anak tersebut tapi kemudian diketahui bahwa masing-masing anak bernama.

1. War menjadi Raja di Waigeo.
2. Betani menjadi Raja di Salawati.
3. Dohar menjadi Raja di Lilinta (Misool)
4. Mohamad menjadi Raja di Waigama.

Sedangkan anak yang perempuan (bernama Pintolee), pada suatu ketika anak perempuan tersebut diketahui sedang hamil.

Kemudian oleh kakak-kakaknya Pintolee diletakkan dalam kulit bia (kerang) besar kemudian dihanyutkan hingga terdampar di Pulau Numfor.

Satu telur lagi tidak menetas dan menjadi batu yang diberi nama Kapatnai dan diperlakukan sebagai raja bahkan diberi ruangan tempat bersemayam lengkap dengan dua batu yang berfungsi sebagai pengawal di kanan-kiri pintu masuk.

Bahkan setiap tahunnya dimandikan dan air mandinya disiramkan kepada masyarakat sebagai babtisan untuk Suku Kawe. Tidak setiap saat batu tersebut bisa dilihat kecuali satu tahun sekali yaitu saat dimandikan.